Selasa, 18 Mei 2010

Boikot Facebook: "Facebook, Respect My Privacy!!"


Protes terhadap sikap Facebook yang mengabaikan perlindungan atas hak kerahasiaan pribadi penggunanya, semakin marak.

Seperti dikutip dari situs BBC, para senator di Amerika Serikat mengeluarkan seruan publik kepada Facebook untuk memikirkan ulang kebijakan perlindungan privasi para pengguna Facebook.

American Civil Liberties Union (ACLU) bahkan mengeluarkan petisi yang ditujukan kepada pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. ACLU meminta Zuckerberg untuk menyediakan cara untuk mengontrol semua informasi yang di-share pengguna melalui Facebook.

Badan resmi yang mengurusi proteksi data konsumen juga menyebut perubahan kebijakan privasi Facebook sebagai langkah yang tidak bisa diterima.

Sorotan tajam tengah dialamatkan kepada Facebook karena jejaring sosial terpopuler itu tak memberlakukan opsi privasi Opt in. Dengan demikian secara standar default, informasi pengguna seperti postingan, foto, serta data-data profilnya akan bisa dilihat secara publik.

Beberapa waktu lalu, fitur baru yang diluncurkan Facebook, Instant Personalization, juga memicu terungkapnya data-data pribadi para penggunanya. Data-data pribadi seperti email pengguna Facebook bisa dijebol dengan metode cross site scripting melalui lubang yang dijumpai dari situs Yelp.

Selain itu percakapan pribadi para Facebooker yang menggunakan chatting box di Facebook juga sempat bocor dan dapat diintip oleh para pengguna lain.

Ini memicu para pengguna Facebook melakukan protes. Charlotte Crockett, pemuda 29 tahun asal Belanda, adalah salah satu dari lebih dari 100 ribu pendukung grup yang menamakan diri "Facebook, Respect My Privacy!" yang dibuat oleh organisasi MoveOn.org. Grup ini mendesak Facebook untuk juga melakukan perubahan pada kebijakan privasi.

"Saya sangat prihatin terhadap orang-orang yang tidak mengerti bagaimana sebaiknya mereka membatasi informasi yang mereka share di facebook. Rekan-rekan seusia saya saja masih banyak yang belum mengerti, bahkan contohnya orang tua saya," kata Crockett kepada abcnews.

Untuk memancing kesadaran para Facebooker lain agar lebih perhatian dengan hak kerahasiaan data pribadi mereka, sebagian pengguna Facebook juga membuat sebuah situs parodi bernama Youropenbook.

Di situs itu, ditampilkan postingan-postingan lucu dan memalukan dari pengguna Facebook, yang mereka siarkan secara tak sadar karena mereka tidak melakukan penyetelan privasi secara benar.

Misalnya saja postingan seorang karyawan yang mengaku bolos dari kerjaan mereka, atau status yang memuat pengakuan tentang seorang karyawan yang mengerjai atasannya, dan lain-lain.

Bahkan perlawanan para pengguna Facebook berekskalasi pada rencana untuk memboikot Facebook. Para pengguna Facebook mendirikan gerakan Facebookprotest.com, berencana untuk memboikot Facebook pada 6 Juni 2010 mendatang.

Pada hari itu, para pendukung gerakan ini meminta kepada para pengguna Facebook untuk tidak sign-in ke Facebook sepanjang hari itu, untuk mendukung gerakan mereka.

Ketidak-sensitifan Facebook menanggapi keresahan para pengguna Facebook akhir-akhir ini memang memicu gelombang gerakan antipati terhadap situs jejaring sosial itu.

Bila seseorang mengetikkan kata-kata "How to quit..." di kolom pencarian Google, secara otomatis mesin pencari akan meneruskan rangkaian kata tersebut menjadi kalimat "how to quit Facebook" di barisan teratas.

Hal itu disebabkan banyaknya pencarian di internet tentang cara untuk berhenti menggunakan Facebook. Di bawahnya, baru hasil pencarian lain mengikuti, seperti cara menghentikan kebiasaan merokok, cara berhenti dari pekerjaan, dan cara berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol.

Belakangan beberapa Facebooker berpengaruh seperti Peter Rojas, Matt Cutts, Leo Laporte, Cory Doctorow juga memilih menutup akun mereka di laman jejaring sosial itu. (hs)


sumber: VIVAnews.com

Senin, 17 Mei 2010

puisi: BIARIN!!!!!!

Kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
Kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
Kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
Kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

Habisnya, terus terang saia, aku nggak percaya sama kamu
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
Cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti itu

Kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
Kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

Soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
Aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
Aku rampok hati kamu. Toh nggak ada yang nggak perampok di dunia ini.

lya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi

Habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
Bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan seperti kamu sadari sekarang ini

Kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
Kamu bilang itu menyakitkan


Karya: Yudhistira Adi Nugraha

NB: Yudhistira adalah sastrawan/penyair yang dulu pernah mengklaim lagu DEWA 19 yang berjudul Arjuna Mencari Cinta adalah karyanya.

Sumber: dari blog tetangga

Sabtu, 15 Mei 2010

HACHIKO, Kisah Anjing Setia Sampai Mati!!! (part 1)


Hachiko; A Dog's Story

Sutradara : Lasse Hallström
Pemain : Richard Gere,Joan Allen,Sarah Roemer, Erick Avari
Jason Alexander,Davenia McFadden,Kevin De Coste,Tora Hallstrom,Rubbie Sublet,Chico,Layla,Forrest.
Tanggal rilis : 8 agustus 2009
Durasi : 104 min.

Film yang didasarkan pada kisah nyata ini diawali dengan suasana kelas sebuah sekolah dasar di Amerika yang gurunya menyuruh murid-muridnya bercerita tentang tokoh yang menjadi idolanya. Pada awalnya semua murid bertepuk tangan ketika seorang murid perempuan bercerita tentang tokoh idolanya yaitu Columbus.


Berikutnya maju seorang murid laki-laki bernama Ronnie yang mengatakan bahwa idolanya adalah Hachiko. Siapakah Hachiko? Ternyata Hachiko adalah nama seekor anjing jantan yang dipelihara kakek Ronnie yaitu Profesor Parker Wilson.
Semua murid tentu saja tertawa mendengar Ronnie mengatakan bahwa idolanya adalah seekor anjing tetapi mereka kemudian sangat terharu kemudian bertepuk tangan ketika mendengar Ronnie bercerita tentang kesetiaan Hachiko pada Profesor Parker, begini ceritanya:


Pada awalnya, kakek Ronnie yaitu Prof. Parker yang dosen seni musik itu menemukan seekor anak anjing jantan berusia 2 bulan di airport. Berdasarkan tulisan Jepang yang ada di kalung anak anjing itu, diketahui anak anjing itu bernama Hachi yang dalam bahasa Jepang berarti 8 (angka keberuntungan bagi orang Jepang), biasa juga dipanggil Hachiko karena “ko” adalah sebutan di Jepang untuk anak-anak.



Prof. Parker sudah berusaha mencari pemilik Hachi bahkan istrinya yang bernama Cate Wilson sampai memasang poster dimana-mana tetapi tidak juga ketemu siapa pemiliknya. Prof. Parker juga sudah menawarkan Hachi kepada teman-temannya untuk dipelihara tetapi tidak ada yang mau. Akhirnya terpaksa Prof. Parker sendiri yang memelihara Hachi dan ternyata mereka berdua bisa saling cocok sampai Hachi sudah menjadi anjing dewasa.



Setiap harinya, Prof. Parker berangkat bekerja dengan naik kereta api. Begitu setianya Hachi pada Prof. Parker sehingga setiap pagi selalu mengantar Prof. Parker berangkat bekerja sampai ke stasiun kereta api.
Karena anjing dilarang naik kereta api, Prof. Parker terpaksa meninggalkan Hachi di stasiun. Betapa setianya Hachi karena dia selalu menunggu di stasiun sampai Prof. Parker kembali di stasiun itu pada sore harinya. Hal itu berlangsung terus selama 3 tahun.



Sampai terjadi peristiwa yang mengharukan ini. Ketika sedang mengajar, Prof. Parker terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia. Hachi tidak tahu bahwa Prof. Parker telah meninggal dan terus menunggu di stasiun sampai malam.
Akhirnya Hachi pulang ke rumah setelah putri Prof. Parker yang bernama Andy Wilson dan suaminya menjemput Hachi. Tetapi di rumah Hachi terlihat selalu sedih dan tidak mau makan.



Untuk menghilangkan kesedihan Hachi, Andy mengajak Hachi tinggal di rumahnya. Tetapi hal itu sia-sia karena Hachi terus-menerus terlihat murung. Bahkan akhirnya Hachi lari dari rumah Andy dan dengan menyusuri rel kereta api, Hachi sampai di stasiun tempat ia biasa menunggu Prof. Parker. Hachi kembali menunggu Prof. Parker di stasiun itu.

Andy dan suaminya akhirnya kembali menemukan Hachi di stasiun dan berhasil mengajaknya pulang. Tetapi percuma saja, di rumah Hachi terus saja murung.
Akhirnya dengan berat hati, Andy terpaksa membiarkan Hachi kembali ke stasiun menunggu Prof. Parker yang tentu saja tidak akan pernah kembali lagi.

Luar biasa kesetiaan Hachi pada tuannya, Hachi terus menunggu Prof. Parker di stasiun dan tidak peduli pada cuaca sedang turun hujan atau salju selama 10 tahun !
Selama itu Hachi tidak mati kelaparan karena diberi makan oleh para sahabat Prof. Parker yang berjualan di stasiun. Selain itu, seorang wartawan juga sudah mempublikasikan kisah Hachi sehingga banyak orang bersimpati dan memberi sumbangan kepada Hachi. Tetapi akhirnya Hachi semakin tua dan lemah kemudian akhirnya meninggal dunia di stasiun.


Opini saya tentang film ini:


Setelah film My Name is Khan, saya menonton lagi film yang benar-benar mengharukan. Tidak hanya karena ceritanya tetapi karena akting pemainnya yang bagus. Bahkan akting anjing pemeran Hachi pun luar biasa hebatnya, gerakan tubuh dan ekspresi wajah sang anjing benar-benar meyakinkan sekali. Hebat juga pelatih anjingnya dan juga si anjing itu sendiri.
Apalagi dengan ilustrasi musik yang juga sesuai dengan jalan cerita.

Awalnya ada teman saya merekomendasikan film ini, saya tertarik. Waktu teman saya bilang "pasti kamu terharu dan nangis", ah masa??? pikir saya. Ternyata penolakan saya untuk tidak menangis terpatahkan oleh argumen teman saya tadi. Dan mengucurlah air mata saya, tidak berhenti sampai film itu selesai, MENGHARUKAN SEKALI!!!!!

Kisah Hachiko memang diangkat dari kisah nyata yang sangat legendaris tetapi lokasinya tidak di Amerika melainkan di Jepang. Hachiko adalah seekor anjing yang lahir di propinsi Odate Jepang sekitar tahun 1923 dan dipelihara oleh seorang Professor di Universitas Tokyo bernama Hidesaburo Ueno.

Seperti cerita pada film ini, Hachiko yang tidak tahu bahwa Prof. Hidesaburo Ueno sudah meninggal dunia, terus menunggu kepulangan Prof. Hidesaburo Ueno di Stasiun Shibuya Tokyo selama 9 tahun. Sampai akhirnya Hachiko meninggal di Stasiun Shibuya pada tahun 1934.

Untuk menghormati kesetiaan Hachiko yang luar biasa itu, di depan Stasiun Shibuya tempat Hachiko biasa menunggu majikannya dibangun patung Hachiko dari perunggu yang bentuknya seperti gambar berikut ini:


Agar lebih lengkap, berikut ini saya tampilkan foto asli Hachiko:


Dan ini majikan Hachiko, Profesor Hidesaburo Ueno:


Kisah Hachiko yang luar biasa itu terus dikenang sebagai lambang kesetiaan oleh rakyat Jepang sampai sekarang.