Selasa, 04 Mei 2010

Hadapi Cemburu dengan Gaya Berkelas!

Menurut pakar anthrolopogi biologis, Helen Fisher, cemburu adalah sifat yang sudah berurat akar, dan merupakan insting positif yang mempengaruhi kehidupan manusia maupun binatang. Cemburu yang berlebihan dapat mendorong pria, yang pada dasarnya setia, mengundurkan diri. Tak tahan dengan tindakan di luar nalar yang dilakukan oleh pasangannya. Demikian pula sebaliknya. Namun bila ditanggapi dengan bijak, rasa cemburu sebenarnya bisa membantu kita untuk memelihara keharmonisan hubungan, dan menyelamatkan hidup anak-anak.

Cemburu disebabkan oleh rasa insecure, khawatir bahwa pasangan akan berpaling kepada wanita lain. Rasa tidak aman ini tidak ada hubungannya dengan penampilan seseorang. Seseorang yang cantik dan seksi pun bisa merasakan insecure dalam hubungan. Meskipun begitu, agar tidak terlihat seperti perempuan insecure, kita perlu belajar bagaimana menghadapi rasa cemburu dengan gaya seorang Angelina Jolie (ketika Jolie tahu Pitt masih berhubungan dengan Aniston dan sempat juga merayu pengasuh bayinya), Hillary Clinton (ketika tahu Bill Clinton berselingkuh dengan Gina Gershon, Hillary tetap tampak tenang), Victoria Beckham (ketika Vic tahu David Beckham berselingkuh dengan model seksi, Marrian Fogarasy dari Milan), Nia Daniaty (ketika tahu Farhat Abbas berselingkuh dengan Anna Maria).

Angelina Jolie, Hillary Clinton, Victoria Beckham, Nia Daniaty, dan masih banyak lagi lainnya adalah tipe-tipe wanita yang pandai mengendalikan emosi. Siapa bilang mereka tidak cemburu, sakit hati, serta marah ketika suami mereka selingkuh dengan wanita lain????? Tentu saja mereka cemburu, sakit hati, dan marah. Namun mereka melakukannya dengan sangat hati-hati karena mereka ingin mempertahankan hubungan rumah tangganya. Cemburu mereka adalah cemburu yang berkelas!!!

Coba simak tips dari Jodi Lipper dan Cerina Vincent, penulis How To Love Like A Hot Chick: The Girlfriend-to-Girlfriend Guide to Getting the Love You Deserve berikut ini.

1. Kendalikan diri Anda.

Cemburu adalah perasaan yang alami, jadi jangan merasa diri tak berharga atau tak berdaya karenanya. Meskipun demikian, ingatlah untuk mengendalikan rasa cemburu itu, dan jangan biarkan Anda terus memata-matai si dia dengan membabi-buta.

2. Sampaikan pada pasangan.

Hal ini mungkin akan terdengar desperate, tetapi penting bagi Anda untuk mengatakan kepada pasangan, "Sayang, kamu sampai kapan sih harus bekerja sama si anu itu? Aku kan kangen sama kamu...." Ingat, katakan hal ini dengan lembut dan merayu. Gaya menginterogasi dan mengintimidasi hanya akan membuatnya makin sering membebaskan diri dari Anda. Jika Anda mampu mengingatkan dia dengan cara yang membuatnya luluh pada Anda dulu, dia akan segera membuka lengannya untuk memeluk Anda.

3. Balas perlakuannya.

Kedengarannya manipulatif ya, selain kekanak-kanakan. Tetapi, sekali-sekali si dia memang harus diberi peringatan. Karena itu, Anda harus bersikap hati-hati. Jangan bertindak berlebihan saat flirting dengan orang lain. Salah-salah, Anda kehilangan kekasih, sedangkan sang gebetan juga mempermainkan Anda. Di lain pihak, pria juga seringkali kurang peka dengan sinyal dari kita. Cobalah sedikit akrab dengan pria yang dikaguminya, seperti atlet atau pemusik jenius. Hal ini agar dia bisa membayangkan mengapa melihatnya berdekatan dengan model atau presenter yang cantik membuat Anda gelisah.

4. Pandang wajah Anda di cermin.

Ingatlah selalu dengan memperhatikan wajah Anda baik-baik, bahwa Anda adalah wanita cantik yang percaya diri. Kritikus paling hebat adalah diri kita sendiri. Benahi kekurangan-kekurangan kita, dan sadari apa kelebihan kita yang belum kita berikan kepada pasangan.

5. Jangan bersaing.

Jika Anda belum bisa menemukan sesuatu yang lebih produktif untuk melampiaskan rasa cemburu, bergegaslah ke gym, lalu ambil sesi aerobik, atau apa pun yang dapat mengeluarkan seluruh energi negatif dalam diri Anda. Jika Anda sudah merasa lebih segar, lebih sehat, lebih nyaman, Anda tak akan perlu mengkhawatirkan teman-teman wanita kekasih Anda lagi. Keep your head up, and have some fun with your guy friends.


Sumber: Kompas

Sabtu, 01 Mei 2010

R. A. Kartini Vs Kartini 2010

Selamat pagiiii...... ciao!!!! Mari bernyanyi!!! Pasti semua
sudah tahu cara menyanyikan lirik lagu ini. Ayooo...1...2...3...

Ibu Kita Kartini

Pencipta Lagu dan Lirik : WR Supratman

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

-----------------
Mungkin [sedikit] terlambat jika aku membahas R. A. Kartini hari ini ya??? Tapi tidak apa, pembahasan ini toh tidak akan ada habisnya jika yang menjadi topiknya adalah perempuan satu ini, ibu R. A. Kartini atau Kartini. Mungkin sudah banyak yang tahu tentang beliau yah? Tapi mungkin dalam tulisanku di early morning ini akan membahas tentang Kartini vs Kartini 2010. hehehehehe....... Macam mana pula itukah? Mari baca dulu asal-usul ibu Kartini beserta generasi-generasi Kartini 2010 berikut ini.

Introduce
Raden Adjeng Kartini
atau Raden Ayu Kartini, lahir di Jepara-Jawa Tengah pada 21 April 1879 dan wafat di Rembang-Jawa Tengah pada 17 September 1904 pada usia 25 tahun. Seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Pemikiran

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan Bumiputera saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Buku:

Habis Gelap Terbitlah Terang

Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.

Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903

Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.

"Aku Mau ..." adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.

Semoga setelah mendapat sedikit gambaran dan bahasan tentang ibu Kartini, kita menjadi lebih bisa menghargai sosok perempuan tanpa harus menyalahartikan definisi dari emansipasi wanita yang sering kali dijadikan "alat" atau pengkultusan yang -dirasa- mampu melumpuhkan hakikat seorang pria dan -sekali lagi;dirasa- meninggikan serta mengutamakan hak-hak wanita -daripada kewajibannya.


Kartini vs Kartini 2010

Keluarga besar PT Temprina Media Grafika (head office) dan PT JePe Press Media Utama (Jawa pos Group) Surabaya mengadakan hari Kartini dengan sangat semangat, terbukti para wanitanya mengenakan kostum kebaya komplit dengan pernak-perniknya. Tak ketinggalan sanggulnya juga.... hahahaha..... yang bapak-bapaknya cukup mengenakan pakaian batik saja (legowo yah....maklum, ini kan hari perempuan, hehehe...). Pengambilan foto ini juga untuk keperluan Company Profile perusahaan -Jawa Pos Group. Pemotretan diambil di area lobby kantor, taman belakang lobby, serta ruang kerja kantor. Let's see the photos!!!!!!


tarrraaaaaaa.......

aku berada di posisi ketujuh dari kiri, hehehe....










Yaaa.... itulah KARTINI-KARTINI 2010 PT Temprina Media Grafika (head master) dan PT JePe Press Media Utama (Jawa Pos Group) Surabaya yang superb!!


SELAMAT HARI KARTINI 2010




Sumber Kartini: wikipedia


Jumat, 30 April 2010

Mengelola Rasa Iri

ciao amico....

Sobat, terkadang kita tidak sadar dengan satu "penyakit" ini. Tahukah kalian jika "penyakit" ini dibiarkan berkembang biak di dalam tubuh hingga otak kita? Maka akan terjadi suatu hal (negatif -bisa juga positif) pada sisten syaraf. Apakah "penyakit" itu?? Eeeeeiiitttt'sssss tunggu dulu, jika di kelola dengan baik, maka "penyakit" tersebut akan menjadi "obat" motivasi yang mujarab. Berikut penjelasan detailnya, kawan aku kutip dari beberapa sumber.

Iri

Iri ternyata tidak selalu memiliki konsekuensi negatif, tetapi justru dapat mendorong seseorang untuk merefleksikan diri dan mengembangkan diri. Namun, kapan dan bagaimana agar iri justru memiliki pengaruh positif seperti itu?

Iri adalah emosi negatif, berupa perasaan tidak senang atau sakit hati terhadap apa yang dimiliki atau apa yang dicapai (keberhasilan) orang lain, yang kita juga ingin miliki atau capai.

Ini hampir sama dengan sirik (schadenfreude)-[sirik bukan dalam arti sebenarnya.red] yang berarti perasaan senang melihat orang lain gagal atau susah. Orang yang iri biasanya sekaligus sirik. Orang yang tidak senang melihat orang lain sukses tentu sekaligus senang bila melihat orang lain gagal.

Tulisan sebelum ini telah menguraikan mengapa dan bagaimana iri terjadi. Iri merupakan konsekuensi dari pembandingan diri dengan orang lain (perbandingan sosial). Pada satu sisi, dengan perbandingan sosial, kita dapat mengembangkan diri berdasarkan apa yang kita ketahui melalui pengamatan kita terhadap orang lain. Di sisi lain, perbandingan sosial juga dapat menimbulkan perasaan iri. Sebagai emosi negatif, iri dan sirik tentu saja berpotensi mengganggu suasana hati.

Semakin seseorang mudah iri atau semakin kuat intensitas perasaan iri, maka ia akan semakin gelisah akibat rasa tidak suka dan sakit hati. Hal yang lebih dari itu juga dapat mengganggu hubungan interpersonal. Seperti yang sering digambarkan dalam sinetron-sinetron, iri dapat memicu tindakan-tindakan agresi, kekerasan, bahkan kriminal.

Di dalam keluarga, iri antarsaudara sekandung (sibling rivalry) membuat satu sama lain saling menyakiti. Di lingkungan kerja, iri akibat rasa ketidakadilan, akibat kesuksesan orang lain, dan lain sebagainya, dapat menimbulkan tindakan jegal-menjegal dalam karier atau akses-akses ekonomi.

Seperti halnya marah atau dendam, pada akhirnya iri justru merugikan orang yang bersangkutan. Itulah sebabnya diperlukan kemampuan untuk mengelola perasaan iri agar hal itu tidak berkembang destruktif atau merusak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dalam hubungan interpersonal.


Hasil survei


Masih dari hasil penelitian oleh Faturochman, dosen Psikologi UGM, salah satu hasil yang diperoleh menunjukkan data tentang respons atau tindakan yang dilakukan oleh responden ketika mengalami iri. Tindakan-tindakan tersebut ada yang bersifat konstruktif, ada yang netral, dan ada pula yang destruktif.

Tindakan atau respons konstruktif ditunjukkan dengan jawaban: menjadi motivasi, bilang kepadanya, introspeksi, menjalin relasi, meminta saran, memberi apresiasi, dan kontrol emosi. Respons netral ditunjukkan dengan jawaban: tidak ada yang khusus dan biasa saja. Adapun respons destruktif ditunjukkan dengan jawaban: memendam, mendiamkan, bersaing, tidak suka, kecewa, dan menghindar.

Lepas dari kemungkinan bahwa responden tidak menjawab apa adanya atau cenderung menunjukkan kesan positif dalam merespons survei, kenyataannya, pernyataan mereka mengenai tindakan ketika mengalami iri adalah bervariasi.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tindakan seseorang bila mengalami iri memang tidak selalu destruktif (baik bagi diri sendiri maupun bagi relasi sosial). Atas dasar respons-respons netral atau respons konstruktif yang tergambar dalam penelitian, kita mendapatkan gambaran bahwa iri dapat dikelola agar konstruktif.


Pengelolaan


Menengok kembali hasil survei yang telah disajikan pada tulisan sebelum ini diketahui bahwa ada empat kategori responden yang memiliki kombinasi pengalaman iri dan diirikan, yaitu: (1) yang pernah merasa iri dan diirikan; (2) yang pernah merasa iri, tetapi tidak merasa pernah diirikan orang lain; (3) yang merasa tidak pernah iri, tetapi pernah diirikan; (4) yang tidak pernah merasa iri dan diirikan.

Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan di atas, tampak bahwa kelompok pertama dan kedua memiliki pengalaman iri. Berdasarkan dua kategori individu dalam hal iri itu, berikut ini saran pengelolaannya.

Bila kita termasuk dalam kategori individu yang pernah merasa iri dan diirikan, maka yang penting adalah kita mencermati kecenderungan diri kita sendiri, seberapa sering dan seberapa dalam pengalaman iri dan diirikan itu.

Bila pengalaman iri dan diirikan jarang terjadi, maka kemungkinan penyebab iri yang dialami ialah adanya situasi yang secara obyektif memicu perasaan iri (ketidakadilan dan sebagainya) atau karena berkembangnya konsep diri negatif dalam situasi tertentu. Munculnya iri seperti ini hanya memerlukan sedikit pengelolaan.

Bila penyebabnya situasi yang secara obyektif memicu perasaan iri, maka langkah yang diperlukan adalah mencari solusi atas masalah atau mengambil tindakan alternatif untuk melepaskan diri dari situasi yang menimbulkan iri.

Bila penyebabnya konsep diri negatif dalam situasi tertentu, langkah yang diperlukan adalah mengenali keterbatasan diri dan mengusahakan pengembangan diri, atau dengan menerima kenyataan bahwa setiap orang memiliki keterbatasan.

Adanya pengalaman diirikan yang melengkapi pengalaman iri yang jarang, atau hanya sesekali terjadi, menunjukkan bahwa individu ini kemungkinan memiliki hal-hal positif sehingga ada orang yang mengiri. Ditambah pengalaman iri yang hanya sesekali terjadi, kemungkinan besar secara umum individu ini memiliki konsep diri yang positif, dengan kelemahan-kelemahan dalam hal tertentu.

Dalam menghadapi pengalaman iri, individu jenis ini mungkin memiliki respons netral terhadap rasa iri atau bahkan konstruktif. Bila ada respons destruktif, maka hal itu mungkin sekadar kecewa. Lain halnya bila pengalaman iri dan diirikan sering terjadi dengan intensitas yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut berproses menemukan dirinya.

Selain mungkin disebabkan oleh kurangnya interaksi sosial, orang ini mungkin terbiasa diunggulkan di dalam lingkungan keluarga, kurang berpengalaman menerima diri apa adanya, atau dibesarkan dalam situasi kompetitif. Ia memfokuskan harga dirinya pada keunggulan-keunggulan diri dibanding orang lain.

Ia sangat intensif melakukan perbandingan sosial, dengan kecenderungan mencari pengalaman yang meningkatkan rasa harga dirinya atau menghindari penurunan harga diri dalam perbandingan dengan orang lain. Akibatnya, ia tidak menginginkan kelebihan dan kesuksesan orang lain, dan ingin melihat orang lain gagal atau terkalahkan dengan membuat diri sedemikian rupa sehingga diirikan.

Bila kemungkinan respons terhadap pengalaman iri itu ditinjau, maka mungkin individu-individu dengan tipe ini lebih cenderung mengembangkan respons destruktif, seperti mendiamkan, bersaing, tidak suka, kecewa, dan menghindar.

Pengelolaan diri yang diperlukan adalah dengan belajar menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Diperlukan langkah mengenali kekuatan dan kelemahan diri yang dimiliki berdasarkan aspek-aspek fisik (postur tubuh, wajah, kesehatan, dan lain sebagainya), aspek psikologis (kemampuan, sifat, motif, dan lain sebagainya), aspek sosial (relasi sosial, keluarga, dan lain sebagainya), dan aspek moral-spiritual (perilaku etis, relasi dengan Tuhan, dan lain sebagainya).

Berdasarkan pengenalan diri tersebut, seseorang dapat mulai mengembangkan diri secara sehat dengan terus mengembangkan kekuatan yang ada, tanpa terlalu fokus terhadap orang lain. Kelemahan perlu diperbaiki, khususnya dalam aspek sosial, dengan cara lebih berempati terhadap orang lain.

Empati (menempatkan diri dalam posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain) merupakan cara yang efektif untuk menghilangkan rasa iri atau kesenangan membuat orang lain iri.

Dengan mengembangkan diri seperti itu, ia dapat semakin matang dengan bebas dari pengalaman iri yang sesungguhnya sangat menyesakkan.

Untuk individu yang pernah merasa iri, tetapi tidak merasa pernah diirikan orang lain, individu-individu ini diduga adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan rendah diri (inferior), merasa tidak memiliki hal-hal yang dapat dibanggakan sehingga tidak ada alasan orang lain iri kepadanya.

Kemungkinan orang ini kurang memiliki pengalaman berinteraksi secara mendalam dengan orang lain, jaringan sosialnya sempit (tidak memiliki banyak relasi sosial), atau memiliki kesempatan yang kecil untuk mengekspresikan diri atau mengaktualisasi diri. Konsep dirinya kurang berkembang dan harga dirinya rendah. Bila harga diri rendah (inferior), maka orang mudah mengalami iri.

Responsnya terhadap pengalaman iri kemungkinan besar adalah destruktif. Namun, tidak seperti pada tipe individu yang memiliki pengalaman iri dan diirikan secara kuat, individu-individu yang mengalami rendah diri ini kemungkinan besar akan merespons pengalaman iri dengan sikap memendam dan kecewa.

Hal yang penting dilakukan oleh mereka yang mengalami rasa inferior ini adalah mengembangkan relasi sosial yang hangat dengan orang-orang lain. Agar memiliki keberanian, yang lebih dulu diperlukan adalah mengenali kekuatan dirinya dan lebih berfokus terhadap kekuatan-kekuatan tersebut, serta tidak berfokus pada kekurangan yang dimiliki.

Perlu diyakini bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Hal ini perlu diyakini supaya seseorang dapat menerima kekurangan diri sebagai hal yang wajar. Pengenalan terhadap kelemahan diri hanya diperlukan sebagai pijakan untuk mengembangkan diri. Bila inferioritas telah diatasi, maka pengalaman iri akan semakin menghilang


Sumber: dari blog tetangga